Go to Top

Formappi: Politik Uang Tidak Bisa Diberantas dengan Perubahan Sistem Pemilu

Jakarta, Beritasatu.com – Peneliti Senior Formappi Lucius Karus menilai politik uang tak bisa diselesaikan dengan perubahan sistem pemilu, dari proporsional terbuka ke proporsional tertutup. Menurut dia, politik uang tetap ada jika partai politik tidak berbenah dan hanya mengurus hal-hal yang tidak terkait dengan politik uang seperti sistem pemilu.

“Keyakinan bahwa sistem proporsional tertutup akan mencegah politik uang hanya rekaan parpol yang merasa harus selalu punya cara untuk mempertahankan kekuasaan termasuk mempertahankan politik uang sebagai salah satu cara untuk bisa meraih kemenangan pada saat pemilu,” ujar Lucius di Jakarta, Senin (20/1/2020).

Lucius mengatakan kontestasi seperti pemilu selalu berisi kompetisi dan masing-masing pesertanya pasti mempunyai kepentingan untuk bisa menang. Namun, kata dia, biasanya kerja pemilu baru dilakukan secara serius menjelang pemilu, maka peserta pemilu menggunakan cara instan untuk bisa menang dengan mudah.

“Salah satu caranya adalah dengan menggunakan pendekatan politik uang ini. Jadi politik uang tidak tiba-tiba muncul pada momen pemilu. Ini buah dari kebiasaan dan kerja parpol yang oligarkis dan pragmatis, yang baru serius bekerja persis menjelang Pemilu,” tandas dia.

Bahkan, kata Lucius, para calon yang diusung tidak selalu merupakan kader yang secara berjenjang telah ditempa di parpol, namun calon yang datang dengan pendekatan sesaat yang kerapkali diakhiri dengan transaksi. Kerja pragmatis dan instan parpol pun turut mempengaruhi relasi calon dan pemilih yang dalam waktu singkat harus membangun relasi yang bisa saling percaya.

“Kadang untuk urusan relasi ini cara paling mudah adalah dengan menggunakan uang sebagai bukti keseriusan seorang calon di hadapan pemilih. Itulah liku-liku politik uang pada saat pemilu,” ungkap.
Karena itu, lanjut Lucius, solusinya jelas bukan sekedar mengutak atik sistem pemilu. Menurut dia, solusi yang holistik mencegah politik uang adalah menata kehidupan partai dengan serius.

“Dengan perubahan sistem pemilu, yang akan berubah adalah aktor saja, sementara politik uangnya akan tetap saja karena sama-sama akan terjadi kompetisi antar partai dalam meraih kekuasaan baik legislatif maupun eksekutif,” pungkas Lucius.

Sumber

, , , , , ,